Kamis, Desember 31, 2009

Peran Sebagai Ibu

Selalu ada perbedaan pendapat ketika mulai bicara lebih baik mana working mom dibanding full time mom. Aku pribadi sangat menghormati dan salut kepada full time mom, karena aku tau beratnya menjadi full time mom. Sebagai working mom....aku masih sempat berhaha-hihi dengan teman-teman kantor, nyelip ke mall buat liat-liat doang saat jam istirahat kantor..baca buku sepuasnya ketika loading pekerjaan cukup ringan...(ditambah main game juga...).

Coba bayangkan jadwal full time mom, pagi mesti nyiapin sarapan dan bekal buat anak dan suami, terus anterin anak sekolah, memulai pekerjaan domestik di rumah, menyusun menu makan siang dan makan malam sekaligus belanja dan memasaknya. Setelah masak selesai, mesti jemput anak pulang sekolah...nganterin lagi mereka kursus ini itu, pekerjaan domestik lagi....siapin makan malam dan nunggu suami pulang sambil menemani anak-anak belajar. OK, mungkin ada asisten di rumah yang bantuin...tapi tetap saja kontrol utama ada pada sang ibu.

Maka tak sekalipun ada pikiran merendahkan terlintas di otakku tentang full time mom. Aku justru kawatir bahwa aku ga akan sanggup menjalaninya jika itu jadi pilihan utamaku....

Tapi bukan berarti walaupun aku bekerja, aku meletakkan prioritas peranku sebagai ibu dibawah pekerjaanku. Justru peran sebagai ibu adalah prioritas utamaku. Aku lebih suka menjawab pertanyaan tentang anak-anakku daripada pekerjaanku...aku lebih suka menjawab apa yang aku lakukan dengan pendidikan anak-anakku daripada pendidikanku sendiri.

Dan aku juga bisa menjawab dengan yakin bahwa walaupun aku berkerja dengan baik, anak-anakku tetap dibawah pengasuhanku...bukan pengasuhan asisten rumah tangga. Karena aku sendiri yang meyiapkan sarapan dan bekal mereka di pagi hari, karena aku dan suamiku sendiri yang mengantar jemput mereka sekolah, karena kami selalu berdiskusi tentang perasaan dan aktivitas harian kami selama perjalanan di mobil menuju rumah, karena aku sendiri juga yang menemani mereka belajar menjelang evaluasi sekolah. Aku menyediakan waktu yang cukup dan berkualitas untuk anak-anakku. Aku tidak percaya hanya dengan quality time akan cukup buat anak-anakku. Aku percaya quantity sama pentingnya dengan quality. Semakin banyak waktu yang berkualitas kita habiskan dengan anak-anak kita maka akan semakin baik hasil yang bisa kita harapkan dari anak-anak kita.

Jadi, prinsip ini juga melatarbelakangi proses pencarian rumah tinggal buat kami sekeluarga. Dimanapun nantinya kami tinggal, aku tetap menyekolahkan anak-anakku di Istiqlal agar aku tetap punya quantity dan quality time itu tadi....artinya nyari rumah ya jangan jauh-jauh dari tempat kerja dan sekolah anak-anak...

Banyak yang berprinsip seperti aku ini di kantorku...makanya kami jadi tergantung dengan taman penitipan anak (TPA) di kantor sebagai tempat anak-anak kami menghabiskan waktu setelah sekolah dan menunggu jam kerja kami selesai. Maka ketika ada kebijakan di TPA tentang tidak bolehnya anak berumur 5 tahun ke atas dititipkan di kantor di susul dengan surat resmi yang menyatakan bahwa kami hanya bisa menitipkan anak-anak kami sampai dengan 31 Desember 2009....kami jadi kelabakan dan benar-benar tidak tau apa yang harus kami lakukan untuk mengatasi masalah kami.

Apakah ini saatnya anak-anak harus pulang ke rumah dan menjadi anak asisten kami? iya bagi yang ada asisten di rumah, bagaimana dengan yang tidak punya? Apakah harus dibawa ke kantor dengan menahan perasaan sungkan pada teman-teman kantor lainnya karena tiap hari harus membawa anak-anak? OK, seminggu, dua minggu mungkin mereka masih bisa menahan dan mengajak bercanda anak-anak kami...bagaimana jika tiap hari begini. Karena suatu kali aku pernah pasang status FB tentang doa semoga esok harinya, asistenku benar-benar balik ke rumahku setelah cuti hampir 3 minggu dan ada satu temen yang komentar bahwa jika bertahun-tahun melihat ibu yang membawa anaknya ke kantor membuat dia eneg dan terganggu....aku kan ga mau seperti itu....dianggap menganggu oleh yang lain-lainnya....

Waktu yang diberikan TPA pun terasa terlalu mepet karena kami hanya punya kurang dari 4 minggu untuk menyiapkan pengganti TPA, apapun bentuknya...dan seminggu pertama berlalu tanpa ada ide apapun mampir ke otakku. Mengantar anak-anak pulang denga sopir sudah pernah aku lakukan ketika aku diklat 6 minggu dulu dan hasilnya..sungguh-sungguh berat di ongkos dan anak-anak menjadi tidak terkendali dalam bermain dan menonton TV.

Aku dan suami sempat berkeliling daerah cempaka putih dan utan kayu untuk cari rumah kontrakan...tapi tetap saja ga semudah itu mencari tempat tinggal yang sesuai dengan selera dan kantong kami.

Pada saat yang hampir sama, tiba-tiba aku terpikir tentang TK dan day care yang ada di masjid dekat kantor suamiku. Kuminta suamiku kesana untuk tanya-tanya dan ternyata, menurut pengurus masjid itu, walau TK dan day care yang dulu itu sudah ditutp, saat ini mereka sedang menyiapkan program kerja untuk 2010 dan day care bisa menjadi salah satunya. Maka suamiku meminta aku untuk menindaklanjuti diskusi itu dengan mengunjungi sendiri masjid itu dengan ibu-ibu lain yang berprinsip sama denganku. Singkat kata, setelah kami bertiga sempat sama-sama bingung tentang mau dikemanakan anak-anak kami ini, Day Care di Masjid At-Taibin yang akhirnya bernama Ina Day Care ini disetujui oleh BPPH Masjid untuk diselenggarakan mulai awal tahun depan yaitu senin depan...pas saat anak-anak kami tidak bisa dititipkan lagi di TPA kantor....

Oooow...senangnya...hari ini adalah keputusan final setelah kami berdiskusi tentang tarif yang mesti kami bayar untuk jasa day care ini. Sempat membuat kami berhitung-hitung dengan tawaran awal yang mereka ajukan, akhirnya tawaran akhir kami mereka terima dengan menaikkan uang pangkal untuk biaya mereka menyiapkan sarana buat anak-anak kami agar tetap terkesan homy...tapi dengan biaya bulanan yang sama dengan yang biasa kami bayarkan di TPA kantor.

Dengan demikian sampai saat ini, kami-kami ini tetap bisa jadi full time mom and worker at the same time....

1 komentar:

  1. syukurlah ada win-win solution nya ya mbak. kalo saya pribadi memang bercita2 mau jadi full-time mother dalam bbrp waktu ke depan. doakan yaaa...
    salam buat Javaz dan Detya :)

    BalasHapus