Jumat, Desember 11, 2009

Uang Saku Anak


Sudah beberapa minggu ini aku pusing dengan cara jajan Detya. Semenjak kecil, aku ga pernah membiasakan anak-anakku buat beli jajan di luaran. Aku selalu sedia stock jajanan untuk mereka, dengan begitu aku bisa mengontrol apa-apa yang mereka cemil. Aturan utama adalah no MSG dan no benzoat....makanya ga ada itu T**o atau C***i atau segala rupa kripik kentang. Juga ga ada permen-permen atau anything with benzoat sebagai pengawet....(kata dokter, bikin batuk...dan emang terbukti).

Ketika mulai masuk TK, aturan di sekolah mendukung upayaku untuk tidak membuat anak-anakku jajan di luar, karena sekolah mewajibkan anak membawa bekal sekolah sendiri. Walau bekal anakku ga sekreatif bekal anak-anak mba devi atau penggemar bekal bento lainnya...tapi lemayanlah...(menghibur diri sendiri mode : ON)...walau kadang-kadang (baca:seringkali)..masih snack bungkusan juga...

Nah...akhir-akhir ini ketika jemput detya sepulang sekolah, aku sering melihat dia mengulum permen lolipop...atau coklat stick... Agak kaget karena aku ga pernah ngasih dia uang jajan..lalu dapat darimana dia?...tanya punya tanya..dia bilang dibeliin teman. Sesering itu? apakah dia diberi atau meminta dibelikan? Dia juga cerita kalau dibelikan teh botol oleh temannya...wah...wah...wah...berapa siy uang saku teman-temannya itu sampai sukarela jajanin Detya? Aku hawatir jangan-jangan Detya yang minta-minta dibeliin dan berulang-ulang kutanya, jawaban Detya tetap keukeuh bahwa temannya yang beliin dia dan dia ga minta-minta.

Selanjutnya Detya juga mulai mencari-cari uang recehan dan bahkan mengambil uang yang ada di mobil untuk parkir dan bayar tol....Wedew...kami mulai agak cemas dan mulai memikirkan apakah perlu memberi uang jajan? Aku lebih memilih untuk mulai mengajari tentang uang, tapi mengingat dia masih memilih makanan yang dibeli hanya sesuai keinginannya sendiri, kami masih merasa perlu meyakinkan Detya agar bisa memilih jajanan yang sehat. Tentu saja aku ga mau, apa yang kuusahakan dari dia kecil dulu untuk memilih makanan sehat, jadi berantakan karena pemberian uang jajan ini.

Jadinya pagi ini langsung browsing sana-sini tentang perlu tidaknya pemberian uang jajan ini, dan ternyata semua artikel menyarankan ini namun ga ada yang menyebut angka pastinya berapa...hanya harus disesuaikan dengan kebutuhan anak...ada artikel yang sangat membantu untuk menentukan jumlah pastinya berapa dan tips-tips lainnya di artikel Perlukah Anak Diberi Uang Saku? atau artikel PEMBERIAN UANG SAKU: MENCEGAH ANAK UNTUK MENCURI atau Uang Saku : Pengetahuan Dasar Keuangan Anak.

Weits...ternyata pemberian uang saku/jajan ini cukup mendesak...karena suamiku sendiri ingat dulu dia juga begitu...cari-cari recehan ibunya buat jajan. Suamiku ga mau Detya juga mulai seperti itu tapi masih khawatir Detya ga bisa ngontrol apa yang dibeli.

So...pagi ini kami mulai memberi Detya uang jajan 5.000 saja dengan pertimbangan dia sudah bawa bekal sendiri dan uang segitu cukup buat beli jus buah atau teh botol dan permen kesukaannya....langkah selanjutnya adalah mengingatkan Detya untuk memilih jajanan sehat dan menyisihkan uang itu untuk tabungan...(wew....5000 sekalian buat nabung..?...waaaa...cukup ga siy..)

Eniwei...tanggapan Detya tadi pagi bikin BT juga karena dia cemberut dengan jumlah uang segitu. Dia membandingkan dengan uang jajan teman-temannya yang minimal 10.000. Lalu negosiasi sampai berbusa-busa kami lakukan sehingga dia bisa netral lagi buat masuk sekolah...(tanpa cemberut maksudnya...)

Ada saran ga, sebenarnya berapa besaran uang jajan yang pas untuk anak kelas 1 SD yang udah bawa bekal sendiri dan ga perlu uang tansport serta hanya ada satu toko kecil di sekitar sekolahnya?

1 komentar:

  1. Ibu Dewi ...
    Pemberian uang jajan ini juga terus terang (sampai saat ini)
    saya masih mencari formula yang tepat ...
    Anak-anak saya yang di Aliyah-Tsanawiyah - dan Ibtidiyah mempunyai uang jajan yang berbeda-beda ... (dan saya tidak tau apa ini cukup atau justru kelebihan )(atau mungkin kurang)

    Dan satu lagi PR kami ...
    Ini sebaiknya kami berikan per hari atau perminggu atau perbulan ...
    (saat ini masih per hari ...)
    Kami sedang mempelajari untuk diberikan per minggu ... mau tau bagaimana Anak-anak memanage uang mereka

    Salam saya

    BalasHapus