Senin, Maret 08, 2010

My First Java Jazz

Sudah sejak tahun 2008 aku ingin sekali ikutan menikmati Java Jazz Festifal ini. Kalau tau siy, rasa-rasanya sejak pertama kali ada, aku sudah tau beritanya. Tapi keinginan untuk ikut serta menikmati, baru-baru ini saja muncul. Terutama karena kartu kreditku menawarkan beli 1 dapat 2, sehingga kupikir kalau dengan penawaran seperti itu maka aku bakal bisa menyisihkan sedikit tabunganku.

Taun lalu, keinginanku semakin kuat karena ada Jason Mraz dan juga aku semakin suka sama lagu-lagu Tompi. Duluuuu sekali, aku berpikir bahwa musik jazz itu musik yang berat, kalau ada live music jazz, lebih ke permainan improvisasi alat music. Jarang ada lagu jazz yang ringan didengarkan, jadi kubayangkan bahwa Java Jazz bakal berisi lagu-lagu yang seperti itu (maklum yang biasa kudengarkan adalah musik pop biasa aja). Tapi semenjak mendengarkan lagu-lagu Jamie Cullum, Jason Mraz, dan terutama Tompi, maka keinginan nonton Java Jazz muncul semakin kuat.

Taun lalu ga jadi karena suamiku ga terlalu mendukung. Lah gimana aku bisa nonton kalau suami ga menemani. Disamping itu, aku juga masih sayang mengeluarkan sejumlah uang untuk tiketnya. Kalau beli CD kan bisa dapat lebih banyak dan didengar berulang-ulang. Walau aku juga tau bahwa efek nonton langsung dengan mendengarkan melalui CD sungguh-sungguh sangat berbeda.

Taun ini, aku sungguh bersemangat karena ada Toni Braxton dan Babyface sebagai spesial shownya...penyanyi R & B favoritku jaman kuliah dulu. Sungguh sayang, dua orang itu tidak show dihari yang sama, sehingga aku memilih menonton Toni Braxton saja. Dan untungnya, dia show pas malam minggu sehingga aku ga perlu kepikiran dengan waktu.

Karena ini adalah Java Jazz pertamaku, maka aku ga bisa membandingkan bagaimana yang dulu dengan yang sekarang. Artinya gini, dari segi lokasi saja, taun ini adalah pertama kalinya Java Jazz diadakan di PRJ Kemayoran, sedang sebelumnya selalu di JCC. Pernah ke PRJ? Nah, situasinya ya sama dengan situasi saat PRJ, bedanya ya...kalo PRJ disana-sini hanya ada booth orang jualan dan pameran, sedang Java Jazz disana-sini isinya adalah panggung music.

Ruang terbuka ditengah-tengah itu diisi dengan booth para sponsor dan foodcourt, ada juga 2 open stage yang diisi bergantian. Hall-hall yang ada digunakan sebagai panggung music. Jadi jika kesana pake high heels...dijamin kaki langsung gempor. Berhubung aku pake heels kalo sedang rapat dan kondangan saja, maka aku bebas dari resiko gempor..eh..engga ding, gimanapun jalan dari satu hall ke hall yang lain disertai berdiri selama pertunjukan berlangsung ya...tetep gempor. Apalagi, ketika menunggu mba Toni maen harus ngantri yang mengular....tetep besoknya butuh pijat betis.

Akhirnya, dari sekian banyak pertunjukan music di saat yang berbarengan, aku hanya bisa nonton penuh Maliq & The Essentials dan Toni Braxton saja, lainnya kutonton sedikit-sedikit saja untuk ganti ke panggung yang lain. Diane Warren yang sebenarnya juga ingin kutonton, tapi kelewatan karena asyik isi perut dulu, jadinya pintu terlanjur ditutup karena Presiden SBY rupanya juga ingin nonton mba Diane ini. Bisa dibayangkan kalau ada presiden kan...pengamanan jadi berlapis-lapis.

Di jadwal awal yang kudonlot dari situs Java Jazz, seharusnya ada Tompi, tapi entah kenapa jadwal hari Sabtu itu, Mas Tompi ga ada...hiks..hiks...padahal pengen banget liat Mas Tompi nyanyi live.

Pelajaran yang bisa kudapat, disamping masalah high heels tadi, laen kali kalau mau nonton Java Jazz, mesti fokus memilih panggung mana yang akan serius ditonton dan fokus aja disitu menikmati musiknya. Kalau emang mau nonton semuanya ya...siap-siap aja kaki yang kuat buat jalan kesana kemari dan siap-siap dapat sedikit-sedikit saja...atau malah ga dapet sama sekali karena pas nyampe di panggung tertentu pertunjukan sudah selesai dan ketika pindah ke panggung yang lain..pertunjukan juga udah selesai...(hehehe..jadi inget cerita daerah waktu kecil dulu..itu tu...yang pengen kondangan di dua tempat yang berlawanan arah...malah ga dapat makan di dua-duanya..)


1 komentar:

  1. hehe, aku nyengir di akhir cerita yg soal kondangan ^^
    emang sebegitu jauhnya ya panggung yg satu ama yg lain? kok jadi inget sa'i di ibadah haji ya?

    BalasHapus