Selasa, Mei 18, 2010

Menerima Apa Adanya

Pernah nonton serial Friends ga? Jaman aku kuliah dulu, betapa aku tidak ingin terlewat episode-episode Friends. Apalagi jaman itu aku juga punya teman-teman dekat yang seakan-akan jadi replika Friend buatku.

Dulu aku melihat serial itu karena suka sama jalan ceritanya, sama bintang-bintangnya, sama kekompakannya, pokoknya baru suka pada kulit luarnya saja. Aku ga memperhatikan detil cerita yang justru bisa menjadi contoh pertemanan atau relationship yang baik.

Akhir-akhir ini ketika bisa/sempat nonton episode ulangan di TV kabel, aku justru mendapatkan makna yang lebih dalam ketika menontonnya. Aku jadi mengerti maksud 'menerima orang lain apa adanya' ketika menonton ulang Friends. Dulu aku ga habis pikir kenapa pada mau berteman sama Phoebe yang agak-agak tulalit dan seleranya aneh, atau Monica yang super duper perfectionist sampai bikin teman-temannya puyeng, atau Rachel yang di awal-awal adalah perempuan manja yang ga tau apa-apa, atau Ross yang gila banget sama dinosaurus dan sukanya kawin cerai, atau Joey yang shallow yang sukanya cewek melulu, atau Chandler...Chandler kenapa ya...sepertinya karakter yang normal-normal saja ya si Chandler ini........eh engga ding..dia suka bikin lelucon ga jelas yang tidak pada tempatnya...

Intinya, seaneh apapun pribadi karakter Friends itu, teman-temannya tetap menerima apa adanya. Dulu aku berpikir, kok mau ya tetep temenan ama Monica yang seperti itu, bahkan Chandler sampe cinta berat begitu... Sekarang aku menyadari bahwa apa salahnya dengan seorang yang perfectionist...biar saja dia begitu karena disamping keperfeksionisan tersebut, Monica adalam teman yang hangat, yang selalu peduli kepada teman-temannya yang lain. Atau Phoebe yang super weird..tetap saja adalah teman yang sempurna karena rela menjadi surrogate mother untuk sahabat baiknya..

Jadi, saat ini..aku akan mendengarkan dengan baik ketika seorang temanku yang sangat-sangat talkative jadi menguasai pembicaraan karena memang begitulah dia....toh dia teman yang peduli ketika ada yang membutuhkan bantuannya. Aku akan bersikap terbuka untuk menerima semua orang apa adanya....karena mana ada siy orang yang sengaja menjadi jelek. Kalaupun terlihat jelek itu karena sudut pandang pribadi kita terhadap orang lain. Coba saja berpikir dari sudut pandang yang lain sehingga apa yang sebelumnya terpikir jelek..akan jadi berubah.

Masalahnya, apakah orang lain akan berpikir sama sepertiku? Maukah mereka menerima aku apa adanya? Aku bukanlah seorang pemarah, tapi nada bicaraku yang seringkali meninggi membuat orang salah sangka bahwa aku sedang marah-marah. Aku ga menyalahkan situasi yang membuatku terbiasa bicara nada tinggi ini, aku berusaha mengontrol nada bicaraku agar orang tidak salah sangka. Tapi tetap saja, apa yang sudah nempel seumur hidupmu akan otomatis muncul jika tidak ada kontrol diri. Misalnya saat dengan adikku, tentu saja kontrol diriku jadi kurang sehingga nada tinggi itu muncul. Untung saja adikku sudah paham sehingga tidak menjadikannya sakit hati. Atau situasi tiba-tiba, yang membuat otomatisku keluar....aku sangat-sangat berharap agar orang lain tidak beranggapan yang negatif dulu terhadap apa yang kubicarakan.

Saat ini aku sedang sedih..karena saat aku sudah berusaha menerima seseorang apa adanya, orang itu masih saja salah sangka kepadaku....

Whateverlah.... memang dalam hubungan pertemanan...untuk mendapatkan timbal balik itu sangatlah susah.... malah jadi tendensius, ga ada keikhlasan... Jika pakai kondisi : I'll love you if you love me too...jadi susah kalo gitu....

Ya sudahlah..kalau tidak bisa menerimaku apa adanya..aku akan tetap menerimamu apa adanya



Tidak ada komentar:

Posting Komentar