Iuran Sekolah
Aku sudah terbiasa dengan metode pembayaran sekolah yang ada di Istiqlal karena dua anak pertamaku sekolah disana. Iuran bulanan, seperti biasa, dibayarkan tiap awal bulan sampai paling lambat tanggal 10 bulan berjalan. Uang pangkal dibayarkan pada waktu pertama daftar sekolah dan bisa dibayarkan dengan mencicil... Selain itu ada yang namanya uang KBM (kegiatan belajar mengajar) yang dibayarkan setahun sekali *boleh dicicil :D* yang sudah mencakup semua biaya alat, buku dan kegiatan selama setahun *termasuk biaya kunjungan-kunjungan belajar dan outbond*.
Selain itu ga ada lagi permintaan iuran ini itu, sehingga aku hanya perlu mengingat-ingat iuran bulanan saja. Menurutku jadi ringkas dan aku hanya perlu menabung sendiri untuk ngumpulin uang KBM yang mesti dibayar tiap tahun ajaran baru.
Bedannya, anak bungsuku sekarang ini belajar di Kelompok Bermain di dekat rumah. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan bahwa untuk kelompok bermain, biar Wisam di dekat rumah saja. Nanti kalau sudah TK kami berniat menyekolahkannya di Istiqlal. Sama seperti kakak-kakaknya.
Biaya sekolahnya lebih murah daripada sekolah di istiqlal walau aku tidak bisa bilang bahwa biayanya cukup murah. Lebih murah iya, tapi tidak murah..:D. Nah bedanya, di KB bungsuku ini, biaya yang ditulis di brosur hanya untuk uang pangkal *yang bisa dicicil :D* dan iuran bulanan saja. Sekolahnya juga hanya seminggu 3x dari pukul 08.00 - 10.00. Ya sudahlah...yang penting Wisam ada kegiatan yang terarah dan fisiknya pun bisa tetep sehat.
Masalahnya, walau tidak ada uang KBM, ternyata biaya lain-lainnya banyak juga dan berulang-ulang. Diawali dengan surat pemberitahuan bahwa masing-masing anak mesti membawa berbagai macam peralatan yang nantinya ditinggal di sekolah, sehingga perlu sejumlah rupiah untuk memenuhinya. Kemudian datang lagi surat pemberitahuan bahwa si anak perlu membayar uang buku sejumlah sekian rupiah yang juga nantinya ditinggal di sekolah. Kemudian ada lagi permintaan uang susu.
Wedew....ini sekolah baru berjalan 2 bulan, sudah 3 pemberitahuan yang harus kami siapkan pendanaannya. Aku jadi merasa ribet karena mesti berulang-ulang gini. Apalagi aku pelupa gini, jadi mesti berulang kali telat bayar karena lupa mempersiapkan dananya.
Lalu bagaimana kalau nanti ada kunjungan belajar? pasti ntar ditarik iuran lagi. Dan tentunya kunjungan itu ga cuma sekali dua kali.
Wah..wah....aku merasa uang KBM jauuh lebih ringkas daripada permintaan satuan gini. Mengenai jumlahnya memang belum bisa dibandingkan apakah lebih mahal dijadikan satu begini seperti di Istiqlal atau diminta satu persatu seperti di KB Wisam, yang jelas dari segi efisien..aku rasa uang KBM lebih baik.
Aku percaya bahwa sekolah tidak sembarangan menentukan jumlah uang KBM. Setiap sekolah pasti punya kalender akademik tahunan yang sudah merancang semua kegiatan selama setahun dan biaya KBM tentu mencakup semua kegiatan-kegiatan itu.
Jadi, sebagai orang tua yang pelupa seperti aku ini...akan lebih baik jika sekolah menerapkan uang KBM...ringkas..dan bisa dicicil...
Selain itu ga ada lagi permintaan iuran ini itu, sehingga aku hanya perlu mengingat-ingat iuran bulanan saja. Menurutku jadi ringkas dan aku hanya perlu menabung sendiri untuk ngumpulin uang KBM yang mesti dibayar tiap tahun ajaran baru.
Bedannya, anak bungsuku sekarang ini belajar di Kelompok Bermain di dekat rumah. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan bahwa untuk kelompok bermain, biar Wisam di dekat rumah saja. Nanti kalau sudah TK kami berniat menyekolahkannya di Istiqlal. Sama seperti kakak-kakaknya.
Biaya sekolahnya lebih murah daripada sekolah di istiqlal walau aku tidak bisa bilang bahwa biayanya cukup murah. Lebih murah iya, tapi tidak murah..:D. Nah bedanya, di KB bungsuku ini, biaya yang ditulis di brosur hanya untuk uang pangkal *yang bisa dicicil :D* dan iuran bulanan saja. Sekolahnya juga hanya seminggu 3x dari pukul 08.00 - 10.00. Ya sudahlah...yang penting Wisam ada kegiatan yang terarah dan fisiknya pun bisa tetep sehat.
Masalahnya, walau tidak ada uang KBM, ternyata biaya lain-lainnya banyak juga dan berulang-ulang. Diawali dengan surat pemberitahuan bahwa masing-masing anak mesti membawa berbagai macam peralatan yang nantinya ditinggal di sekolah, sehingga perlu sejumlah rupiah untuk memenuhinya. Kemudian datang lagi surat pemberitahuan bahwa si anak perlu membayar uang buku sejumlah sekian rupiah yang juga nantinya ditinggal di sekolah. Kemudian ada lagi permintaan uang susu.
Wedew....ini sekolah baru berjalan 2 bulan, sudah 3 pemberitahuan yang harus kami siapkan pendanaannya. Aku jadi merasa ribet karena mesti berulang-ulang gini. Apalagi aku pelupa gini, jadi mesti berulang kali telat bayar karena lupa mempersiapkan dananya.
Lalu bagaimana kalau nanti ada kunjungan belajar? pasti ntar ditarik iuran lagi. Dan tentunya kunjungan itu ga cuma sekali dua kali.
Wah..wah....aku merasa uang KBM jauuh lebih ringkas daripada permintaan satuan gini. Mengenai jumlahnya memang belum bisa dibandingkan apakah lebih mahal dijadikan satu begini seperti di Istiqlal atau diminta satu persatu seperti di KB Wisam, yang jelas dari segi efisien..aku rasa uang KBM lebih baik.
Aku percaya bahwa sekolah tidak sembarangan menentukan jumlah uang KBM. Setiap sekolah pasti punya kalender akademik tahunan yang sudah merancang semua kegiatan selama setahun dan biaya KBM tentu mencakup semua kegiatan-kegiatan itu.
Jadi, sebagai orang tua yang pelupa seperti aku ini...akan lebih baik jika sekolah menerapkan uang KBM...ringkas..dan bisa dicicil...
Komentar
Posting Komentar