Rabu, Oktober 20, 2010

Parents Day

Just Copy Paste From My FB's Note

Pada dasarnya, pihak Komite Sekolah sudah merencanakan agenda apa saja yang akan Komite lakukan bersama sekolah. Namun waktu pelaksanaannya sepertinya belum teragenda dengan baik. Jadi ketika mid-test telah dilaksanakan, pihak sekolah baru menyampaikan bahwa Komite bisa melakukan salah satu agendanya sambil mengisi waktu saat para guru mengkoreksi hasil ujian anak-anak. Praktis hanya ada 3 hari untuk menyiapkan segala sesuatunya. Dari agenda yang mana yang akan didahulukan, yaitu Career Day dan Cooking Class, bagaimana format dan prosedur pelaksanaannya, sampai menentukan siapa saja yang akan mengisi acara tersebut.

Karena agenda utamanya adalah Parents Day, maka peran orang tua sangat diharapkan agar acara bisa berjalan. Pihak Komite Sekolah, yang dimotori Mba Devi dan suami, sibuk menghubungi orang tua yang bersedia menjadi narasumber untuk menjelaskan profesi mereka maupun untuk mendampingi anak-anak pada waktu cooking class. Dan mengingat waktu yang terbatas maka yang dihubungi adalah orang tua yang biasa aktif di kegiatan sekolah. Saya ga ikutan di Komite Sekolah, juga bukan orang tua yang aktif di kegiatan sekolah. Tapi karena Mba Devi adalah teman baik di kantor dan juga anak-anak kami berada di penitipan yang sama, maka mau ga mau saya juga selalu terinformasi tentang kondisi terkini di sekolah. Jadi ketika dihubungi untuk bisa ikut serta, ya gimana lagi....cukup antusias walaupun sedikit bingung ketika harus menjadi narasumber Career Day.

Bagaimana tidak bingung, wong cuma PNS di Kementerian Keuangan kok ya disuruh nerangin profesi begitu. OK, walaupun bisa dibungkus sebagai profesi ‘Pengelola Keuangan Negara’, tetap saja tidak bisa dibandingkan dengan profesi Dokter, Akuntan, Koki, Pedagang dan profesi spesifik lainnya. Itupun juga masih bingung, apakah mesti menjelaskan Utang Negara seperti yang saya kerjakan saat ini, masak sih..anak SD mesti dikenalkan dengan Utang, belum lagi kalau nantinya merembet ke masalah bunga, ini kan Madrasah...masa mau menjelaskan tentang utang dan bunganya. Akhirnya berpikir untuk menjelaskan tentang tugas Kementerian Keuangan secara keseluruhan. Toh anak-anak tidak butuh rincian yang detil. Mereka hanya butuh dikenalkan dengan berbagai profesi yang mungkin bisa mereka pikirkan untuk karir di masa depan.

Nah, pada waktu pembagian kelas, rupanya guru sekolah menginginkan agar kelas IV bisa mendapat materi tentang utang negara....yowislah...penjelasan secara keseluruhan untuk kemudian fokus ke pembiayaan alias utang.

Jadi yang saya lakukan untuk mengawali adalah menjelaskan bahwa sebagaimana rumah tangga, pemerintah juga harus melakukan belanja sehingga perlu ada pendapatan. Nah jika pendapatannya kurang padahal belanja yang akan dilakukan itu penting, maka butuh pembiayaan. Samalah seperti ketika suatu rumah tangga butuh beli rumah padahal uangnya belum mencukupi sehingga perlu KPR. Intinya nerangin APBN lah...

Uniknya, ketika memancing pertanyaaan apa yang harus dilakukan ketika belanja lebih besar dari pendapatan, maka sebagian besar anak-anak menjawab agar pemerintah mengurangi gaji pegawainya agar dananya mencukupi. Permintaan ini berkali-kali disampaikan sampai ga bisa menahan tawa. Sepertinya jawaban ini mewakili permintaan rakyat juga ya... Ah, mereka kebanyakan baca berita tentang kenaikan gaji DPR dan Menteri saja. Kami-kami para pegawai biasa kan gajinya juga secukupnya, tidak berlebihan sehingga dengan apa lagi kami hidup, kalau penghematan dilakukan dengan mengurangi gaji pegawai. Bagaimanapun, ide anak-anak itu mestinya dibaca sebagai penghematan dalam semua belanja pemerintah agar digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang penting saja. Bukan sekedar kosinyering dan sosialisasi saja.

Dan anak-anak itu juga sangat tertarik dengan pajak, pertanyaan mereka cukup detil dan kritis. Misalnya siapa saya yang harus bayar pajak, apakah semua orang mesti bayar pajak, besarnya pajak berapa, gunanya uang pajak untuk apa, bahkan juga bertanya tentang korupsi dan penanganannya. Duh, saya harus berhati-hati menjelaskan masalah itu karena pada dasarnya, korupsi itu ulah oknum saja. Masih banyak pegawai yang menjalani hidupnya dengan lurus dan ikut sakit hati atas ulah para koruptor itu. Diakhir penjelasan, ternyata tak satupun dari anak-anak itu berminat untuk jadi pegawai seperti kami ini. Sepertinya penjelasan saya yang kurang menarik sehingga tidak menggugah minat mereka untuk jadi pegawai pemerintah. Lah gimana mau menarik, wong ga ada bahan sama sekali, saya cuma ngomong dan nulis di depan kelas. Next time mesti nyiapin sedikit tulisan yang menarik atau foto-foto apalah sehingga mereka lebih bisa mendapat gambaran tentang apa sih yang dilakukan Pemerintah. Dan mengingat pertanyaan tentang pajak ini cukup detil, lain kali pegawai pajak saja yang diminta mewakili Kementerian Keuangan, biar penjelasannya lebih baik lagi.

Dan sayangnya pula, saya hanya sempat memberikan presentasi di satu kelas saja. Tidak sempat pindah ke kelas lain karena ada panggilan dari kantor. Sedangkan penjelasan dari profesi lain tetap berjalan.

Jadi paket kegiatan Parents Day ini ada 3 hari. Hari pertama diisi dengan Penjelasan Jurnalistik, yang dilakukan oleh salah satu orang tua murid yang pernah ikut di Misi Kemanusiaan di Kapal Mavi Marmara yang waktu itu sempat diserang Israel. Hari kedua diisi Career Day untuk kelas 3 – 6, sedangkan kelas 1 dan 2 mengikuti Cooking Class. Hari ketiga dengan pengaturan terbalik yaitu anak kelas 1 dan 2 mengikuti Career Day sedangkan kelas 3 - 6 mengikuti Cooking Class namun dengan penjelasan tentang prinsip-prinsip berdagang. Bahkan di akhir jam sekolah, anak-anak itu diminta untuk berdagang di lobby sekolah.

Hari terakhir ini yang penuh improvisasi bagi saya. Karena ingin berpartisipasi juga, maka hari terakhir ini saya juga ikut menemani Cooking Class. Nah, dua orang yang jadi tutor utama di kelas itu juga belum paham konsep pengajarannya bagaimana. Apakah harus praktek memasak dulu baru menjelaskan prinsip berdagang, atau hasil praktek tersebut apakah akan dijual juga atau cukup mereka nikmati saja, juga belum kami ketahui, prinsip berdagang sejauh mana yang harus diterangkan. Akhirnya kami bertiga berimprovisasi saja sehingga hasil akhirnya jadi berbeda-beda antara kelas satu dengan kelas lainnya. Selembar materi yang dibagikan panitia ketika sudah masuk kelas, malah membuatku puyeng karena hanya poin-poin utama saja yang ditulis. Lah..manalah saya ngerti sedetil itu. Jadi pas nerangin prinsip berdagang itu ya ngikutin plek apa yang tertulis di kertas itu, ga bisa mengembangkan lebih jauh.

Dengan penjelasan dari kami yang seadanya itu, ditambah daya imajinasi anak-anak kelas tiga yang belum seadvance anak-anak kelas di atasnya, maka ketika hasil cooking class mereka dibandingkan dengan hasil kelas lain, nampak jelas perbedaannya.

Ah sudahlah, yang penting mereka antusias dan sangat menunggu momen berdagang di akhir jam sekolah. Dan seperti hari sebelumnya, saya tidak bisa bergabung sampai akhir acara, artinya saya melewati momen berdagang mereka. Kalau dengar cerita sesama tutor di kelas itu, sepertinya kelas yang kami bimbing malah rugi jualannya...hueheheheh...salah siapa ya?...salah tutornya....

Satu hal yang saya ingat sehingga menambah apresiasi saya terhadap guru-guru sekolah adalah betapa susah membuat anak-anak itu fokus terhadap materi yang kami sampaikan. Sepertinya sekali lagi karena penjelasan kami yang kurang menarik sehingga mereka jadi sibuk sendiri. Belum lagi harus berbicara dengan lantang agar semuanya bisa mendengar sehingga energi lebih harus dikeluarkan. Salut untuk para guru yang mampu membuat anak-anak fokus di sepanjang pelajaran. Betapa besar energi yang mereka keluarkan dan betapa mereka harus menjaga emosi agar tetap stabil.

Semoga pengalaman dan pendapat saya ini bisa berguna untuk evaluasi Komite Sekolah untuk pelaksanaan Parents Day berikutnya.

2 komentar:

  1. Versi resmi artikel ini juga ada di Koki - Kolom Kita

    Tentu saja anonim

    BalasHapus
  2. Saya sudah membaca hal ini di postingan Bu Devi

    Ini profesi yang sulit nih Bu ...
    Untuk dijelaskan ...
    Tetapi yang jelas ... mudah-mudahan dengan penjelasan seperti yang ibu lakukan ... anak-anak itu bisa mengerti ..

    And BTW ...
    Kegiatan ini konsepnya keren sekali

    Salam saya Bu

    BalasHapus