Senin, November 15, 2010

Melankoli Kota Batu

Selain 4 teman perempuan waktu kuliah yang kami sebut DEWIDANENI (dewi, Ida, Ade dan Eni), kami juga punya teman laki-laki yang kami sebut ALIWANDIPUL (Ali, Iwan, Andy dan Ipul atau Saiful). Hmmm..empat cewek dan 4 cowok...seakan-akan berpasangan ya...

Padahal yang akhirnya berpasangan adalah aku dan Saiful saja, selainnya murni berteman. Nah salah satu teman mainku adalah Iwan.

Iwan ini unik menurutku, dia tipe yang ga pernah absen bersenang-senang tapi selalu mendapat nilai terbaik di kelasku. Jadi aku sempat berpikir, kapan Iwan ini belajar kalau setiap acara bermain kami selalu saja dia tak pernah ketinggalan. Kalau teman yang pintar tapi ga gaul...banyak (apalagi di IPB)...Tapi yang seperti Iwan ini sangat jarang. Kalau yang seperti aku, pandai bersenang-senang dengan prestasi pas-pasan....nah ini juga cukup banyak :D

Nah, Iwan ini baru balik dari New York setelah 10 tahun bekerja disana. Beberapa bulan sebelum dia pulang kampung for good, aku sering baca status-statusnya di fesbuk yang mengisyaratkan dia telah mencapai semuanya. Baik secara materi maupun spiritual...terutama dari spiritualnya. Tentang betapa yoga telah membuat dia terinspirasi dan merasa kembali murni di dalam hatinya. Tentang perjalanannya keliling dunia. Kupikir dia telah mencapai suatu nilai spiritual dari semua pengalaman hidupnya.

Lalu dia kembali ke kota asalnya, dan rupanya dia sedang menulis memoar tentang hidupnya. Tentang dia yang bukan siapa-siapa yang besar di Kota Apel Batu sampai akhirnya mencapai karier tertinggi di Big Apple New York.

Dalam suatu dialog kami di fesbuk, dia menuliskan salah satu kutipan paragraf di memoarnya itu. Sungguh kalimat-kalimat yang khas Iwan...walaupun susunan kata seperti itu tidak terlalu menggugah minat bacaku. Hey..aku penggemar Pramudya Ananta Toer dengan kalimat-kalimatnya yang lugas dan apa adanya...jadi kalau ketemu tulisan yang halus seperti gaya bahasa Iwan..aku perlu berkali-kali baca untuk memahami maksud di balik kalimat itu. Intinya....daya ngehku rendah untuk kalimat-kalimat puitis...walaupun aku selalu kagum betapa para penulis puisi mempunyai perasaan yang halus sehingga bisa merangkai kata seindah itu.

Lalu ternyata awal november lalu Iwan sudah menerbitkan buku puisi dan fotografi bekerja sama dengan temannya. Jadi puisinya ditulis Iwan sedang fotonya oleh teman itu.

Puisi indah yang menggambarkan suasana keseharian di Kota Batu...lengkap dengan foto-foto yang mewakili puisi itu. Sebenarnya aku sendiri bertanya-tanya..ini foto dulu yang ada kemudian digambarkan melalui puisi atau puisinya dulu yang muncul untuk kemudian dicarikan foto lokasi yang sesuai...

Eniwei...sedikit banyak motivasiku memiliki buku ini adalah Iwan Setyawan sendiri...dia teman baikku...teman menjalani kehidupan Kampus IPB dalam kegembiraan. Humor-humor Iwan yang ga pernah keliatan sedih membantuku mengatasi ketidakberdayaanku....saat homesick...maupun saat kelabakan mengerjakan tugas...ataupun saat stress menghadapi ujian. Jadi aku harus punya...entah ketika membacanya aku butuh berulang-ulang untuk memahaminya..itu lain soal...

Jadi Iwan....good luck with your writing career....can't wait for your memoar and novel...



Pak Ponimin terus melangkah dengan sandal jepit birunya.
Dengan gagah menyambut pagi,
memecah batu-batu di sepanjang Kali Brantas

Ia terus melangkah.
Beban hidup, diangkat dipundaknya,
melewati arus kali yang tak pernah berhenti.

Otot bahu, tangan, dan punggungnya adalah sebuah garis hidup,
lukisan kekuatan seorang laki-laki yang berani merampungkan hari demi hari,
mengangkat pecahan batu-batu,
mengumpulkan serpihan-serpihan hidupnya.


*cuplikan dan foto di atas diambil dari fesbuk Iwan Setyawan.

1 komentar:

  1. GIESTIE-nya manaaaaa??? kok udah dilupakan sich...hehehehe

    BalasHapus