Senin, Desember 20, 2010

Catatan Harian : Berhenti Menawar

Aku dan beberapa temanku sedang resah...tentang apa sebenarnya kontribusi nyata Government Spending untuk perekonomian nasional. Bangun jalan, jembatan, jalan tol, hal-hal semacam itu rasanya tidak lebih besar daripada sosialisasi, workshop, iklan,konsinyering... dan semua itu juga masih belum menyentuh level bawah masyarakat secara keseluruhan.

Maka kami berpikir, apa sih kontribusi dari kami yang bisa langsung menyentuh masyarakat? Satu hal bulat yang kami sepakati, terutama sebagai sesama ibu rumah tangga : belanja di pasar tradisional atau tukang sayur yang lewat..TANPA MENAWAR. Kalau belanja di supermarket bisa kami lakukan tanpa menawar, lalu kenapa ketika ke pasar tradisional harus menawar? Menawar lima ratus-seribu, ga akan ada pengaruhnya terhadap jatah harian belanja kita..maka BERHENTILAH MENAWAR.


Bahkan di pedagang kaki lima yang jual kaos kaki, jepit rambut, kerudung kaos dan lain-lain....mintalah harga pas saja dan ga usah ditawar lagi... Menawar 5ribu-10 ribu.. ga akan mempengaruhi kelangsungan isi dompet bulan ini..maka BERHENTILAH MENAWAR

Toh lima ratus-seribu, 5ribu-10ribu juga ga akan membuat pedagang-pedagang itu jadi kaya raya. Hanya sedikit tersenyum karena mereka dapat keuntungan sedikit lebih banyak...mungkin bisa untuk membelikan anaknya eskrim.

Memang masih saja ga berpengaruh banyak terhadap masyarakat langsung, tapi setidak-tidaknya...uang honor yang kami belanjakan...bisa langsung jadi multiplier effect untuk orang lain.

*sigh....tulisan ga penting.

2 komentar:

  1. untuk pedagang tradisional, alhamdulillah aku udah lama nerapin itu ke diriku sendiri mbak. NO NAWAR! Kecuali yg dagang baju ya, karena perbedaan harga antara 'penawaran awal' sama 'harga setelah ditawar' kadang bisa nyampe 50-100ribu!

    aku berusaha menghargai pedagang kecil. mungkin karena memang uang 5-10ribu itu relatif sedikit buat ukuran kita. tapi aku gak nyalahin yg nawar juga sih, mungkin mereka tmasuk yg kondisi ekonominya juga lemah, dan tiap rupiahnya sangat berarti, makanya diperjuangkan mati2an dg cara nawar :)

    tapi kalo disosialisasikan di kalangan menengah ke atas, ide mbak Dewi ini bagus banget. dan.... PENTING KOK! ^^

    BalasHapus
  2. Menawar harga merupakan kelakuan yang unik. Benar, kalau yang menawar itu seorang jutawan yang belanja di pasar tradional dan yang di tawar kisaran 500 - 1000, menjadikan sang jutawan 'ga tau malu'
    Tapi kalau tawar menawar antara sesama yang setara ekonominya??....... monggo di putuskan sendiri.

    Tapi tawar menawar bukan melulu persoalan untung rugi, bu. Di situ ada juga soal 'kebiasaan' yang asal budayanya entah dari mana. Ada cukup banyak orang yang saya tahu, kalau dia belanja ga nawar tuh kayanya 'salah' jadi menawar itu sepertinya wajib. Dan untuk beberapa orang konon menawar itu adalah seni. Seni berargumentasi mengenai nilai yang tepat untuk suatu barang, antara kau dan aku. Kau adalah pedagang dan aku pembeli.

    Repotnya, di tingkat lain tawar menawar dilakukan juga. Melalui kolong meja...... :) Siapa tuh?????

    BalasHapus