Sabtu, Februari 26, 2011

Investasi

Para perencana keuangan selalu bilang bahwa sisihkan penghasilanmu untuk investasi. Dari investasi untuk pendidkan anak,investasi untuk dana pensiun,cadangan untuk dana kesehatan,maupun untuk darurat. Dari investasi jangka pendek sampai jangka panjang, dari resiko tinggi dengan return yang tinggi juga, atau hasil kecil dengan resiko yang kecil juga.

Tahun 2006-2007 lalu aku pernah mencoba berinvestasi pada reksa dana dan dalam setahun, uangku meningkat 100%. Suatu hasil yang sangat menggembirakan. Waktu itu suamiku baru kembali dari Korea setelah setahun ikut pertukaran budaya kesana. Dari sisa uang saku selama disana dan tabungan sedari bujangan dulu, maka opsi reksadana yang kupilih adalah reksadana saham. Waktu itu memang pasar saham sedang bagus-bagusnya.

Untungnya aku tarik reksadanaku itu pada saat yang tepat sehingga aku dapat hasil yang maksimal. Lagipula suamiku ingin investasi di pasar real, bukan pasar saham seperti itu karena tidak langsung menyentuh kehidupan nyata. Jadi suamiku menanam modal dengan sistem bagi hasil. Teman baik suamiku sering dapat orderan suplai segala keperluan kantor sehingga selalu butuh modal dulu sebelum akhirnya dibayar. Disini investasi suamiku dibutuhkan.

Setelah mencoba reksadana dulu, aku tidak pernah tau lagi perputaran investasi kami. Tapi aku berasumsi bahwa hasilnya tidak jauh berbeda dengan terakhir yang aku tau.

Sampai dua minggu lalu ketika kami survei sana-sini dalam rangka mencari rumah idaman, suamiku menghitung-hitung likuid yg kami punya, ditambah KPR yang kami mampu sehingga rumah seharga berapa sih yang mampu kami beli? Ternyata likuid yang kami punya saat ini, sudah meningkat jadi 3x lipat. Ditambah tabungan suamiku dari penghasilan rutin bulanan, likuid kami jadi 4x lipat dari jumlah awal.

Suatu angka yang menurutku besar sekali, jadi ditambah KPR, maka kami bisa memilih rumah dengan cukup bebas.

Dari keberadaan angka tersebut yang dihasilkan selama 3 tahun terakhir, aku jadi yakin bahwa selagi umur masih muda janganlah takut untuk berinvestasi dengan resiko yang lebih besar karena hasilnya pun akan besar. Kalaupun terjadi sesuatu, kita masih punya cukup waktu untuk memperbaiki pola investasi kita.

Jadi selagi muda gini, banyak-banyaklah berinvestasi dan jangan takut dengan resiko. Ketika memilih untuk investasi jangka panjang maka resiko yang tinggi akan sepadan dengan hasil yang didapat.

1 komentar:

  1. Ya ...
    Dan saya pikir ...
    banyak-banyak menyerap informasi ...
    agar investasi yang kita jalankan tidak salah dan beresiko yang di luar kalkulasi kita

    salam saya Bu

    BalasHapus