Rabu, Mei 18, 2011

Berdamai Dengan Tikus


Gambar dari sini

Aku sempat berpikir bahwa tikus hanya menyerang rumah-rumah lama saja yang memang inrastrukturnya sudah kuno, seperti di kompleks rumah dinas tempatku tinggal. Kompleks ini dibangun awal tahun 1980an sehingga wajar saja jika sistem sanitasinya sudah kuno dan akhirnya dihuni kawanan mbokti(kus).

Tapi setelah aku tanya teman-temanku yang tinggal di cluster-cluster baru, rupanya problem mbokti ini memang tetap ada. Intinya, dimana ada rumah tinggal, disitu akan berkembang-biak pula kawanan mbokti.

Masalahnya di rumah dinasku sekarang ini, tikusnya sungguh luar biasa banyak dan ganas. Ini karena ketika musim mutasi pejabat tiba, maka banyak rumah kosong ditinggal pindah penghuninya. Saat ini saja, dua rumah disamping kananku kosong sudah hampir tiga tahun ini. Di sayap kiri ada satu rumah yang baru beberapa minggu ini kosong. Akibatnya, mbokti yang seharusnya dibagi rata dalam mencari buruan, jadi berkurang wilayah buruannya. Akibatnya, rumahku yang paling dekat dengan rumah kosong itu, menjadi sasaran utama perburuan para mbokti.


Sudah beragam cara kulakukan untuk mengurangi serangan mbokti ini, dari yang paling kuno adalah kotak jebakan, lem tikus, sampai beragam model racun mbokti, sudah aku coba. Tapi serangan malah semakin parah yaitu naik ke meja dapur dan mengerikiti apa saja yang bisa dikerikiti. Jadi kalau lupa menyimpan makanan ke dalam ruang penyimpanan, bisa dipastikan bakal ada bekas kerikitan mbokti. Dan jika tidak ada satupun yang bisa digondol, maka peralatan apapun yang ada di meja akan ada bekas kerikitan. Sudah habis berapa banyak tupperware yang hancur karena kerikitan mbokti ini...benar-benar merugikan.

Lalu bulan lalu ketika Bapakku ada, beliau akhirnya bilang: "Ya sudahlah, daripada siti(kus) cari makanan sampai ke meja-meja begini, direlakan saja untuk menyediakan sisa makanan di pojok dapur. Karena bagaimanapun siti akan cari makanan kemana-mana."

Mendengar itu, aku jadi sedikit terpana karena aku tidak pernah berpikir seperti itu. Pikiranku hanya membasmi, membasmi dan membasmi. Tak sekalipun terpikir untuk berdamai seperti ini. Bagaimanapun mbokti ini sudah bernak-pinak entah dimana yang aku tidak tau, jadi dia akan tetap bergerilya cari makanan. Dan daripada peralatanku satu persatu ga bisa digunakan karena dibolongin mbokti, maka berdamai dengan kawanan mbokti menjadi satu-satunya pilihan.

Bukan berarti ketika memutuskan berdamai begini termasuk berhenti berusaha mengurangi populasi mbokti. Tetap saja perburuan itu ada, kalau tidak kawanan mbokti ini akan semakin merajalela. Predator utama mbokti inipun rupanya sudah menyerah, karena kucing-kucing di sekitar kompleks, lebih suka berburu makanan matang dari rumah ke rumah daripada berburu mbokti.

Jadi saat ini, selain selalu sedia pentung jika bertatap muka langsung (racun, lem dan jebakan sudah ga mempan), tiap malam aku selalu menyediakan sisa makanan hari itu (yang pasti ga kemakan lagi) untuk di letakkan di pojokan rumah tempat rute standar mbokti lewat.

2 komentar:

  1. Untuk urusan yang satu ini ...
    memang menjengkelkan ...
    Saya biasanya pakai Racun tikus ...
    (itu lho yang katanya di makan .... tapi nanti kolapsnya di luar ... jadi tidak mati di dalam rumah)

    Tapi ... akhirnya saya tau yang lebih ampuh ...
    miara Kucing ... :)
    dirumah saya cara ini masih bisa diandalkan

    salam saya

    BalasHapus
  2. hiks bener mbak aku kesel banget kalau yang dimakan tupperware

    BalasHapus