Senin, November 07, 2011

Asisten Rumah Tangga

Sebagai ibu bekerja, kebutuhan akan asisten rumah tangga menjadi mutlak diperlukan. Siapa lagi yang akan menjaga anak-anak di rumah jika bukan Sang Asisten? Ga mungkin kan meminta bantuan orang tua, apalagi juga orang tua ada di kampung sana.

Jadi ketika punya anak pertama dulu, aku sudah berusaha mencari asisten untuk membantuku nanti ketika aku sudah harus kerja lagi. Namun sampai waktunya kerja, tetap saja belum ada sehingga dengan sangat terpaksa meminta ibuku untuk datang menemaniku kembali (waktu baru melahirkan sampai 3 minggu kemudian, ibuku sudah datang dan membantu merawat anakku). Namun setelah waktu berlalu dan masih belum ada asisten, aku jadi tidak tega berlama-lama menahan ibuku. Alhamdulillah, akhirnya ada Tempat Penitipan Anak di kantorku, tepat saat Detya berumur 3,5 bulan sehingga ibuku bisa segera pulang (saat itu 2 adikku masih SMA).


Kehidupan tanpa ada yang bantu kujalani sejak itu. Aku dan suamiku bahu membantu mengerjakan seluruh urusan rumah. Cuci baju tiap malam sepulang kerja hanya kami kerjakan untuk baju-baju Detya, sedangkan baju-baju kami, diselesaikan pada sabtu minggu, suami bagian nyuci, aku yang menyetrika. Buat kami berdua, makanan bisa didapat dimana saja kecuali makanan Detya harus disediakan fresh karena kami menghindari makanan bayi yang sudah jadi. 


Kondisi ini berlangsung sampai Detya berumur 6.5 bulan dan kemudian aku harus mencari asisten karena aku mendapat beasiswa sekolah lagi dan tidak perlu ke kantor. Dengan demikian, tanpa bisa menitipkan anak di TPA, harus ada yang menemani Detya di rumah. Dan kebetulan aku hamil lagi anak kedua. Alhamdulillah ada saudara yang berminat ikut denganku. Walaupun dia harus membawa anak-laki-lakinya, aku terima saja karena aku sangat membutuhkan orang untuk jaga anakku dan saudara sendiri jadi terasa lebih baik. Jadilah kami berlima, tinggal bersama di rumah petak kecil, mulai bulan Agustus 2003. 


Alhamdulillah ketika 2 tahun kuliah sampai akhirnya harus kembali bekerja, saudaraku itu masih bertahan membantuku bahkan ketika aku harus kembali bekerja. Beberapa bulan setelah bekerja, aku berkesempatan menempati rumah dinas kantor sehingga akhirnya sekitar bulan Juli 2006 aku pindah ke rumah dinas. Nah, saudaraku tadi ternyata tidak ingin ikut pindah karena mendengar cerita-cerita seram di rumah dinas yang kutempati itu. 


Yaah, mau gimana lagi, walaupun dengan proses berhenti yang tidak bisa dibilang lancar, bahkan cukup bermasalah, maka akhirnya ketika pindah di rumah baru itu, kami mulai lagi tanpa ada asisten rumah tangga. Untungnya adik perempuanku sudah ikut aku sehingga masih ada yang membantu urusan ini itu. 


bersambung..

2 komentar:

  1. dilema ibu bekerja ini ada di asisten ya. mudah2an semua bisa teratasi ya mbak

    BalasHapus
  2. betul bu Dewi ...
    masa-masa tersebut adalah masa dimana kita sangat memerlukan Asisten ...

    Namun nanti ... ketika anak-anak menginjak remaja ... saya rasa kita bisa sedikit survive ... karena anak-anak ... sudah bisa menjaga dirinya masing-masing ... yang sulung menjaga yang bungsu dst

    Salam saya Bu Dewi

    BalasHapus