Senin, Januari 05, 2015

2014

Ga percaya rasanya bahwa posting terakhir yang aku lakukan adalah bulan November 2013.

Aku masih suka blogwalking...jalan-jalan baca tulisan bloger yang lain.  Sambung menyambung jika ada tulisan lain yang juga menarik.  Tapi hati ini sama sekali tak tergerak untuk menulis sendiri.

Banyak yang terjadi, banyak yang ingin aku bagikan, tapi tak sekalipun aku tergerak menulis.

Dari banyak yang telah terjadi, satu saja yang ingin aku tuliskan. Aku Mutasi...alias pindah lokasi walaupun masih di level yang sama.

Di tempatku, mutasi itu hampir-hampir seperti sesuatu yang tak mungkin terjadi.
Jadi gini, dari satu unit kerja..ada beberapa direktorat.  Direktoratku yang awal,itu seperti direktorat yang terpinggirkan.  Kalaupun ada mutasi, yang paling mungkin adalah mutasi internal direktorat saja.  Ga mungkin mutasi pindah direktorat apalagi dari direktorat lain masuk ke tempatku. MUSTAHIL (pakai huruf kapital).

Hari Kamis terakhir bulan Maret 2014, aku mendengar kabar kasak-kusuk beredar bahwa akan ada dua orang dari direktoratku yang masuk bursa mutasi.  Satu orang promosi sedang satu orang lainnya dipindah ke lantai bawah.  Ruanganku ada di lantai 6 dan lantai bawah artinya tempat yang tidak terpinggirkan.

Sesorean kabar kasak-kusuk itu santer terdengar, tapi tak sekalipun aku turut membahas.  Aku bosan dengan istilah terpinggirkan dan tak terpinggirkan...anak kandung dan anak tiri (tempatku)...aaah..whatever...

Sampai besok paginya sekitar jam 10, seseorang datang ke ruanganku dan menyerahkan undangan untuk mutasi itu.  Rasanya aku tidak bisa berkata apa-apa....aku?....AKU?....yang akan dipindah ke bawah ke tempat anak kandung itu AKU?

Well, tanggal 2 April aku resmi pindah.  Jangan ditanya kehebohan yang terjadi di tempatku.  "Kok Dewi dipindah siiih? Dewi yang mumpuni kok dibuang ke bawah?"....Mumpuni? emang aku punya ilmu silat yang mumpuni yaaa...

Waktu aku pamitan ke Big Bossku, beliau berpesan:"Saya ga akan ngasih orang yang biasa-biasa aja untuk pekerjaan di bawah, jadi saya percaya Mbak Dewi bisa bekerja dengan baik disana"...

O well....either way...aku anggap dua-duanya pujian.

Dan memang adaptasi di tempat baru itu cukup menyita perasaan.  Aku bukan orang yang suka berpindah-pindah....aku menikmati comfort zone.  Tapi memang sudah 8,5 tahun aku berada di tempat yang sama.

Dan memang..tahun 2013 itu aku sudah resah ingin menikmati tantangan baru.  Tapi tetap saja aku tidak menyangka bahwa harapanku itu menjadi kenyataan.

Eniwei....bulan ini adalan bulan kesepuluh di tempat baru.  Selama waktu itu, aku tetap tidak bisa mencari jawaban kenapa tempat ini disebut anak kandung....kenapa tempat ini dianggap paling diidam-idamkan di antara direktorat yang lain.  Pekerjaan yang aku lakukan justru lebih ringan daripada tempat yang lama.  Semuanya sudah ada SOP dan jelas alurnya.  Ga ada konflik-konflik kepentingan yang mungkin terjadi.  Ga ada koordinasi lintas kementerian yang luar biasa alot yang dulu biasa aku lakukan.

Jadi, kalau menurutku pribadi, tunjangan tambahan yang aku terima di tempat baru...lebih karena prestise saja....bukan karena beban kerja yang lebih berat daripada di tempat lain.

Kesimpulannya...Jangan takut keluar dari comfort zone...bisa jadi tambahan penghasilan menantimu...



2 komentar:

  1. Definisi aku tentang PEMBERANI selama ini adalah: orang yg mau beranjak dari comfort zone-nya

    jujur aku bukan termasuk orang yg spti itu. Lbh sering cari aman. So, salut Mbak Dew...!!

    BalasHapus
  2. Selamat menempati lokasi kerja dan lingkungan kerja yang baru ya Bu ...
    Semoga sukses
    Mari menulis lagi ...

    Salam saya
    (9/1 : 5)

    (wait sepertinya saya pernah kenal dengan komentator di atas ini ...)(sudah lama saya tak berkunjung ...)(masih di media nggak ya dia ?)

    BalasHapus