Jumat, Februari 27, 2009

Adik Terkecilku

Aku dengan adik bungsuku beda umur 12 tahun. Aku ingat sekali proses kelahirannya dulu pas aku kelas satu SMP. Dia lahir di rumah subuh-subuh karena udah ga nahan lagi buat ibuku pergi ke klinik atau bidan. Jadinya aku dan sepupuku kebagian jemput bu bidan di rumahnya. Sepanjang proses persalinan, aku mendengar semua prosesnya dari kamarku yang ada disamping persis kamar orang tuaku..walaupun begitu, tidak banyak yang kudengar. Kupikir bakal ada teriakan atau gimana ternyata hanya desis-desis kecil dan sedikit suara aktivitas orang (ketika mengalaminya sendiri baru nyadar bahwa yang ada di film-film itu semuanya ga pas...)

Jadi dengan adanya adik bungsuku, aku tidak lagi menjadi anak perempuan satu-satunya..dan selanjutnya ketika aku keluar rumah untuk nerusin sekolah dan ga pernah balik lagi secara permanen..maka adikkulah yang menjadi Daddy's Little Girl..

Pas dia balita dulu aku masih di rumah, tapi rasa-rasanya aku tidak begitu mengikuti masa batitanya karena budeku ingin adikku ini tinggal bersama mereka...kira-kira waktu dia umur 1,5 - 3 tahun. Karena jidatnya yang nonjol kami ingin memanggilnya nonong, tapi bude bersikeras memanggilnya nonik..jadilah sampai sekarang kami memanggilnya nonik. Waktu TK aku ingat sering mengantarnya sekolah dan ketika dia sudah bosan sekolah..maka dia hanya memilih waktu-waktu tertentu untuk berangkat sekolah yaitu setiap sabtu, minggu ketiga. Apa yang melatar belakangi?..ternyata karena hari itu adalah waktunya makan bersama di sekolah...(kecil-kecil sudah oportunis tuh..)

Nah, pas dia mulai masuk SD adalah waktu bagiku untuk nerusin sekolah di bogor. Jadi setelah itu aku sama sekali ga mengenalnya kecuali 2 minggu pas libur semester dan 1 bulan pas libur akhir tahun ajaran. Satu hal yang kuinget tiap liburan adalah ledekan masalah kulit.. Aku selalu ngeledek dia kulitnya item sekali dan dia ga bisa ngebales ledekanku itu...tahun berikutnya dia mulai bisa ngebales dengan : biar item tapi kan kayak manggis..dalemnya putih..manis lagi...daripada kuning kayak belimbing sayur...kecuuuuuuutttt....(kira-kira mulai kelas 3 sd dia udah mulai jawab seperti itu)

Pas dia masuk SMP, aku sudah mulai kerja sehingga dia dan kakaknya selalu kukirim uang saku untuk sebulan. Maksudku untuk mulai ngajari dia bertanggung jawab dan mengelola uang agar cukup buat jajan dia sebulan. Disamping itu, aku ga ingin dia mengalami yang kurasakan dulu..hiks..aku ga pernah dapat uang jajan dari bapakku. Semua kebutuhan sekolah pasti terpenuhi..tapi tidak uang jajan..(ada siy..tapi sekali atau dua kali seminggu yang hanya cukup bwt beli es lilin).

Selanjutnya tahun 2001 pas adikku akhir SMP bapakku pensiun dan otomatis sekarang tidak hanya uang jajan yang menjadi tanggunganku...tapi semua kebutuhan dia dan kakaknya kutanggung...Betapa ingat aku waktu itu, gaji ga seberapa tapi harus nanggung dua anak yang sudah SMA. Tapi yang bikin aku heran..selalu saja ada rejeki buat mereka. Pernah suatu ketika adikku nelpon bahwa dia butuh sekian ratus ribu buat beli buku...waktu itu aku langsung bilang iya walaupun aku tau aku sama sekali ga punya uang segitu...dan sorenya saat aku bengong mikirin mesti minjem uang siapa..tiba-tiba Bosku membagikan amplop untuk anak buahnya dan yang keterima persiiiss sejumlah yang dibutuhkan adikku...Berkali-kali itu terjadi sehingga aku yakin Allah akan memberi jalan jika kita berniat baik..

Selanjutnya adikku lulus SMA tahun 2005 dan setelah nyoba ikut tes prodip dia langsung berangkat ke jakarta untuk tinggal bersamaku. Maka dimulailah saat pertama bagi kami untuk saling mengenal lebih dekat. Sebagai adik tentu saja dia kebagian peran menyesuaikan diri dengan yang sudah ada. Dia ambil diploma 1 dengan pertimbangan tahun berikutnya dia nyoba untuk ikutan tes prodip lagi, ternyata dia tetap tidak lulus tes itu..

Maka dimulailah masa nyari kerja sana-sini sampai akhirnya dia ingin jadi pengasuh di penitipan anak yang ada di kantorku..mulai Maret 2007. Walau gaji dibawah UMR tapi dia mau melakukannya dengan harapan mencari pengalaman dan surat rekomendasi jika dia berhenti nanti. Setelah jadi pengasuh inilah dia memutuskan untuk sekolah lagi di PGSD..dia ingin jadi guru/pengajar untuk anak-anak kecil..TK ataupun SD.. Jadi setiap hari dia berangkat kerja bersamaku sedangkan sabtu-minggu dia kuliah di PGSD itu.

Juli 2007 dua anak terbesarku masuk RA Istiqlal dan karena ga ada pembantu di rumah maka si bungsu yang masih 2 bulan juga kutitipkan di TPA kantor. Maka semenjak itu kami serumah, aku, suami,3 anak dan adikku selalu berangkat dan pulang bersama-sama. Bisa dibayangkan kesibukan di pagi hari menyiapkan keberangkatan kami... Dan saat-saat inilah aku sangat-sangat bersyukur bahwa ada adikku yang membantu semua persiapan itu. Tanpa adikku ini..apa jadinya aku..pasti lebih high temper lagi..karena selalu diburu-buru waktu..untuk preparation di pagi hari.. Sekarang jadi lebih mendingan lagi karena aku bisa ninggal si bungsu di rumah karena sudah ada pengasuh yang jagain dia.

Mulai Januari kemaren adikku berhenti dari TPA selain karena dia harus praktek ngajar, dia juga ingin pengalaman baru yang lain. Maka setelah praktek ngajar 2 minggu di SD negeri, ga bayak yang dia lakukan selain tiap selasa sore ngajar privat anak SD. Dengan demikian anak bungsuku lebih terjaga lagi karena ada adikku yang sangat kreatif menstimulasi anak bayi ini (pengalaman waktu di TPA dan hasil belajar di PGSD..). Sekali lagi...tanpa adikku..apa jadinya aku..

Akhir-akhir ini aku berpikir sendiri..sampai kapan aku ngandalin adikku untuk membantuku seperti ini..dia punya kehidupan dan cita-cita sendiri..jadi ga bisa aku mengharapkan dia untuk selalu bersama kami. Hmmmm...sampai saat itu tiba..aku tetap sangat mensyukuri setiap bantuan adikku ini..

Setelah hidup bersama-sama hampir 4 tahun ini, dia sangat-sangat mengerti aku dan suamiku...dia tau bagaimana harus bersikap ketika aku high temper...dia tau bagaimana menyikapi demandingnya suamiku..dia bisa menenangkan anak-anakku ketika mulai tantrum..dia tau bagaimana memotivasi anak-anakku untuk mandiri pada saat aku sendiripun lebih memilih memanjakan mereka...dia tau bagaimana mengelola uang biar mendapat manfaat maksimal...
Rasa-rasanya dia tau lebih banyak daripada aku diumur yang sama...
Bayangkan..saat aku 22 tahun, mana ngerti aku tentang merawat bayi dan anak-anak...aku hanya tau harus segera menyelesaikan kuliah..bahkan mau kerja dimana akau juga belum punya tujuan sama sekali..

Adikku sudah tau bahwa dia ingin jadi guru dan sedini mungkin sudah nambah-nambah ilmu sehingga bisa jadi guru teladan dan penghasilanpun ga kurang...

Minggu lalu aku agak-agak kawatir karena dia nyari lowongan di koran dan ada lowongan untuk jadi fulltime helper buat anak autis di salah satu rumah di pondok indah sana..syaratnya harus sabar dan bisa aktif berbahasa inggris. Aku ngingetin dia bahwa mungkin wording-nya bagus..fulltime helper..tapi kata lainnya kan kayak babysitter gitu...dia bilang ga masalah asal dia dapat kesempatan untuk nyelesaiin kuliahnya tiap sabtu minggu..

Aku mau ngaku disini bahwa kekhawatiranku itu murni hanya tentang aku sendiri. Bahwa jika dia fulltime ada disana..lalu bagaimana denganku? siapa yang akan membantuku lagi..? Apakah ini saatnya bahwa adikku akan punya kehidupan sendiri yang sama sekali terpisah dariku...?

OMG...betapa egoisnya aku....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar