Rabu, April 08, 2009

Hati-Hati Dengan Dokter

Dapet forward email dari suamiku, tentang tulisan yang dikirim oleh seorang dokter tentang pelayanan rumah sakit saat ini. Aku yakin, bagi yang pernah berurusan dengan rumah sakit pasti mengiyakan tulisan ini. Begitu juga dengan aku.

Sebelum lebih jauh, ini tulisannya:

halo rekan-rekan. ..

Ini tulisan yang mungkin 'aneh', saya sebagai seorang dokter justru meminta rekan-rekan untuk berhati-hati pada dokter. Ini mengikuti tulisan Pak Irwan Julianto di Kompas 4 Maret 2009 lalu, yaitu mengenai 'caveat venditor' (produsen/penyedia jasa berhati-hatilah) .
Ceritanya begini, beberapa hari ini saya mengurusi abang saya yang sakit demam berdarah (DBD). Saya buatkan surat pengantar untuk dirawat inap di salah satu RS swasta yang terkenal cukup baik pelayanannya. Sejak masuk UGD saya temani sampai masuk ke kamar perawatan & tiap hari saya tunggui, jadi sangat saya tau perkembangan kondisinya.
Abang saya paksa dirawat inap karena trombositnya 82 ribu, agak mengkuatirkan, padahal dia menolak karena merasa diri sudah sehat, nggak demam, nggak mual, hanya merasa badannya agak lemas.

Mulai di UGD sudah 'mencurigakan' , karena saya nggak menyatakan bahwa saya dokter pada petugas di RS, jadi saya bisa dengar berbagai keterangan/penjelas an & pertanyaan dari dokter & perawat yang menurut saya 'menggelikan' . Pasien pun diperiksa ulang darahnya, ini masih bisa saya terima, hasil trombositnya tetap sama, 82 ribu.
Ketika Abang akan di-EKG, dia sudah mulai 'ribut' karena Desember lalu baru tes EKG dengan treadmill dengan hasil sangat baik. Lalu saya tenangkan bahwa itu prosedur di RS. Yang buat saya heran adalah Abang harus disuntik obat Ranitidin (obat untuk penyakit lambung), padahal dia nggak sakit lambung, & nggak mengeluh perih sama sekali. Obat ini disuntikkan ketika saya ke mengantarkan sampel darah ke lab.
Oleh dokter jaga diberi resep untuk dibeli, diresepkan untuk 3 hari padahal besok paginya dokter penyakit dalam akan berkunjung & biasanya obatnya pasti ganti lagi. Belum lagi resepnya pun isinya nggak tepat untuk DBD. Jadi resep nggak saya beli. Dokter penyakit dalamnya setelah saya tanya ke teman yang praktik di RS tersebut dipilihkan yang dia rekomendasikan, katanya 'bagus & pintar', ditambah lagi dia dokter tetap di RS tersebut, jadi pagi-sore selalu ada di RS.

Malamnya via telepon dokter penyakit dalam beri instruksi periksa lab macam-macam, setelah saya lihat banyak yang 'nggak nyambung', jadi saya minta Abang untuk hanya setujui sebagian yang masih rasional.

Besoknya, saya datang agak siang, dokter penyakit dalam sudah visite & nggak komentar apapun soal pemeriksaan lab yang ditolak. Saya diminta perawat untuk menebus resep ke apotek. Saya lihat resepnya, saya langsung bingung, di resep tertulis obat Ondansetron suntik, obat mual/muntah untuk orang yang sakit kanker & menjalani kemoterapi. Padahal Abang nggak mual apalagi muntah ama sekali. Tertulis juga Ranitidin suntik, yang nggak perlu karena Abang nggak sakit lambung. Bahkan parasetamol bermerek pun diresepkan lagi padahal Abang sudah ngomong kalau dia sudah punya banyak. Saya sampai cek di internet apa ada protokol baru penanganan DBD yang saya lewatkan atau kegunaan baru dari Ondansetron, ternyata nggak. Akhirnya saya hanya beli suplemen vitamin aja dari resep.

Pas saya serahkan obatnya ke perawat, dia tanya 'obat suntiknya mana?', saya jawab bahwa pasien nggak setuju diberi obat-obat itu. Perawatnya malah seperti menantang, akhirnya dengan terpaksa saya beritau bahwa saya dokter & saya yang merujuk pasien ke RS, Abang menolak obat-obat itu setelah tanya pada saya. Malah saya dipanggil ke nurse station & diminta tandatangani surat refusal consent (penolakan pengobatan) oleh kepala perawat. Saya beritau saja bahwa pasien 100% sadar, jadi harus pasien yang tandatangani, itu pun setelah dijelaskan oleh dokternya langsung. Sementara dokter saat visite nggak jelaskan apapun mengenai obat-obat yang dia berikan. Saya tinggalkan kepala perawat tersebut yang 'bengong'.

Saat saya tunggu Abang, pasien di sebelah ranjangnya ternyata sakit DBD juga. Ternyata dia sudah diresepkan 5 botol antibiotik infus yang mahal & sudah 2 dipakai, padahal kondisi fisik & hasil lab nggak mendukung dia ada infeksi bakteri. Pasien tersebut ditangani oleh dokter penyakit dalam yang lain. Saat dokter penyakit dalam pasien tersebut visite, dia hanya ngomong 'sakit ya?', 'masih panas?', 'ya sudah lanjutkan saja dulu terapinya', visite nggak sampai 3 menit saya hitung.

Besoknya dokter penyakit dalam yang tangani Abang visite kembali & nggak komentar apapun soal penolakan membeli obat yang dia resepkan. Dia hanya ngomong bahwa kalau trombositnya sudah naik maka boleh pulang.

Saya jadi membayangkan nggak heran Ponari dkk laris, karena dokter pun ternyata pengobatannya nggak rasional. Kasihan banyak pasien yang terpaksa diracun oleh obat-obat yang nggak diperlukan & dibuat 'miskin' untuk membeli obat-obat yang mahal tersebut. Ini belum termasuk dokter ahli yang sudah 'dibayar' cukup mahal ternyata nggak banyak menjelaskan pada pasien sementara kadang kala keluarga sengaja berkumpul & menunggu berjam-jam hanya untuk menunggu dokter visite.

Abang sampai ngomong bahwa apa semua pasien harus ditunggui oleh saudaranya yang dokter supaya nggak dapat pengobatan sembarangan? Abang juga merasa bersyukur nggak jadi diberi berbagai macam obat yang nggak dia perlukan & jadi racun di tubuhnya.
Sebulan lalu pun saya pernah menunggui saudara saya yang lain yang dirawat inap di salah satu RS swasta yang katanya terbaik di salah satu kota kecil Jateng akibat sakit tifoid. Kejadian serupa terjadi pula, sangat banyak obat yang nggak rasional diresepkan oleh dokter penyakit dalamnya.

Kalau ini nggak segera dibereskan, saya nggak bisa menyalahkan masyarakat kalau mereka lebih memilih pengobatan alternatif atau berobat ke LN.

Semoga bisa berguna sebagai pelajaran berharga untuk rekan-rekan semua agar berhati-hati & kritis pada pengobatan dokter.

rgds
Billy

My Note:
Bener deh, pas PIK AIF harus dirawat pertama kali, kami ga punya pilihan. Dokter meresepkan obat paten yang harganya 175rb untuk satu hari dan PIK AIF harus di rawat minimal 7 hari, ga boleh kurang... Pas hari kelima, dokter jaga salah meresepkan obat generik yang kasiatnya sama persis dengan obat yang harus kutebus dengan beda harganya hanya 20ribu...langsung saja nyesek deh.. Kalu sama-sama harus disuntik minimal 7 hari...kenapa harus beli obat mahal?..dan kenapa, si pasien tidak diberi tau bahwa ada pilihan obat paten ato generik..? Kalaupun nantinya si pasien tetep beli yang paten, tapi setidaknya dia sudah terinformasi... (kejadian sih..pas PIK AIF harus dirawat untuk kedua kali. aku maksa nanya, apa ada pilihan generiknya? dan ternyata setelah beberapa jam, ada jawaban bahwa ada generik yang kasiatnya sama. Tapi berhubung obat paten membuat rasa sakit cepat ilang, kami tetep milih yang paten..)

Kejadian yang paling akhir adalah sakitnya ibuku. Ibuku kena diabetes, jadi kalau kadar gulanya udah tinggi banget, mau ga mau harus di rawat (walau ibuku seringkali mengeluhkan rasa sakit diinfus dan disuntik lewat infus itu). Aku ga pernah bisa nemeni ibuku di RS karena beliau ada di Banyuwangi sana, sedangkan aku disini. Jadi aku ga bisa cerewet nanya-nanya ke dokter. Bapakku pun hanya bisa mengiyakan apa saja yang dokter bilang, walaupun aku sering mengingatkan agar beliau lebih aktif nanya perkembangan sakit ibuku. Yang membuatku heran, biaya RS ibuku itu hariannya bisa nyampe 1,2jt (dan ga pernah kurang dari seminggu...hiks..). Macem-macem siy keperluannya, tes ini itu, biaya rontgent, obat suntikan, dan sebagainya...Bapakku hanya iyain saja, karena beliau ga tau bahwa kita bisa milih obat generik. Beliau pikir semua obat yang disuntikan ga ada yang generik. Aku hanya membandingkan dengan ibu mertuaku, yang harus dirawat juga karena diabetes tapi biayanya ga semahal itu (dan beliau pakai askes..artinya obat-obatnya pasti dicarikan yang generik). yang penting kan, obat itu untuk sarana kesembuhan...generik atau paten...toh sama-sama sembuh..

Bapakku memang masih dapet asuransi pensiun dari tempat kerjanya, seharinya 600ribu dan setaun maksimal 25 hari. tapi pengalaman selama ini, kami masih harus nambah banyak untuk biaya rumah sakit itu..atas pengeluaran yang tidak terinci jelas..dan atas obat yang entah apa saja itu...

Hiks...kapan kita bisa berobat dengan tenang..jika perasaan dirongrong itu terus muncul...

1 komentar:

  1. OMG! kami2 yg orang awam di dunia medis ini gmn nasibnya??

    BalasHapus