Jumat, Oktober 16, 2009

Spesialnya Javas...

Minggu lalu dapat undangan untuk rapat orangtua khusus untuk kelas Javas, Kelompok B3. Tidak semua kelas dapat undangan itu, tapi karena ada kelas lain yang juga dapat maka aku hentikan kekhawatiranku....mungkin ini hanya bergiliran.

Rabu kemaren pelaksanaan rapatnya dan ternyata memang hanya kelas-kelas spesial saja yang perlu pertemuan seperti ini. Sekolah menyebutnya Parenting Class.

Di awal tahun ajaran, disebutkan bahwa kelas B3 ini merupakan penggabungan anak-anak yang secara tingkat sosial emosi belum sesuai dengan umurnya, sehingga agar penanganannya lebih fokus maka dijadikan satu kelas. Untuk TK A, juga diatur demikian.

Maka setelah tiga bulan berlalu dan melihat perkembangan selama ini, maka sekolah berinisiatif agar di kelas spesial ini diadakan Parenting Class. Tujuannya agar terjadi keselarasan antara perlakuan di sekolah dengan di rumah sehingga si anak dapat mencapai level sosial emosi yang sesuai dengan usianya.

Sebelum lebih jauh, Javas emang beda dengan Detya, disamping menurut penelitian perempuan itu lebih cepat matang sosial emosinya, secara keseluruhan Javas lebih cepat segalanya dari Detya dalam hal perkembangan motoriknya, sedangkan Detya cepat dalam aspek bahasa dan kognitifnya. Javas udah jalan ketika berumur 10 bulan sedang Detya jalan ketika seminggu sebelum ulang tahun pertamanya.
Dalam aspek sosial emosi, Javas sudah dari kecil dulu suka tantrum ga jelas dan bisa berlangsung berjam-jam. Tantrum itu berkurang ketika dia mulai sekolah di Istiqlal dan semakin hilang sampai sekarang ini. Tantrum hilang tapi dia suka menarik diri dari kelompok main jika dia ada hambatan dan berdiam diri (di sekolah)..kadang-kadang jika gemes ingin menyalurkan marahnya dia mencakar lantai, tikar, karpet atau meja dengan posisi gemas sekali (di rumah)...yang jelas nangis diam-diam di pojokan masih dilakukan jika dia merasa terganggu oleh temannya ketika bermain atau ketika ada keinginan dia yang tidak terpenuhi.

Intinya..aku terima ketika Javas dianggap perlu untuk masuk kelas khusus karena sosial emosinya yang belum sesuai (karena ada ibu yang sepertinya tidak terima ketika anaknya masuk kelas B3 ini). Bagiku pribadi, dengan hilangnya tantrum dan komunikatifnya dia dalam mengungkapkan apa yang dia pikirkan dengan kami, orangtuanya, sudah merupakan kemajuan yang cukup berarti.

Dari hasil parenting class hari rabu itu, rata-rata orang tua mengalami masalah yang sama sehingga masalah sudah teridentifikasi, tinggal cari solusinya gimana. Banyak yang baru kami ketahui dalam pertemuan itu dari penjelasan Bu Guru kelas, tentang anak-anak kami di sekolah . Kami jadi tau bahwa semua orang di kelas B3 itu demam TAMIYA karena model main mereka yang grouping....satu pilih mainan..yang lainnya akan maen yang sama. Ada dua tiga anak yang tidak terpengaruh tapi berdasar diskusi pengaruh tamiya itu munculnya di rumah. Dalam hati aku khawatir, jangan-jangan Javas yang membawa pengaruh Tamiya ini...tapi ternyata tidak..ada beberapa anak yang lebih kuat kesukaannya pada tamiya ini sehingga Javas yang memang sangat suka mobil...jadi suka tamiya juga. Apalagi lebaran kemaren kumpul dengan sepupu2nya yang doyan tamiya juga..(in fact..dulu aku yang ngado lintasan tamiya itu waktu mereka sunatan).

Maka pertemuan yang berakhir jam 5 sore itu cukup membuka pikiran kami semua dan sedikit contoh-contoh cara menangani anak-anak dari Bu Guru, sangat membantu kami untuk melakukan langkah selanjutnya.

Pada dasarnya Javas sangat mudah diajak bekerja sama artinya jika sedang ada masalah..kami berdiskusi sampai semua pertanyaannya terjawab..maka dia akan mudah mengikuti apa yang kita mau... Apalagi dengan trik diskusi yang disampaikan Bu Guru...makin mempermudahkanku berdiskusi dengan Javas (dan ini langsung kupraktekkan sepulang dari parenting class itu).

Tadi pagi adalah jadwal mengambil laporan tengah semester Javas...dan konsultasi yang sebelumnya diadakan hanya 15 menit saat mengambil laporan oleh masing-masing orangtua, sepakat kita ganti dengan model diskusi seperti saat parenting class sekaligus melanjutkan pertemuan pertama itu.

Pembahasan tadi sudah dalam tahap mencari/memberi solusi..(intinya kita bingung ga tau solusinya gimana, Bu Gurulah yang mencarikan solusi dari identifikasi masalah itu...thanks a lot Bu Guru... We love you full...). Dan solusi serta penjelasan yang sangat aplikatif dijelaskan dengan detil sehingga bertambahlah pengetahuanku dalam menangani Javas (dan berguna juga jika menghadapi Detya yang jagoan berargumen).

Sayang sekali suamiku ga bisa bergabung jadi harus menjelaskan ulang yang artinya belum tentu sebaik Bu Guru ketika menjelaskan tadi.... Dari sharing dua kali ini, rata-rata para Bapak yang memenuhi kebutuhan mainan bagi anak-anak cowoknya (dalam bentuk mobil dan tamiya)...jadinya cukup susah menghilangkan pikiran tamiya itu dari anak-anak jika si Bapak tetep memnuhi mainan itu.

Parenting Class ini akan rutin kami lakukan karena sebagai kelompok B yang akan masuk SD, kemampuan keaksaraan harus sudah bagus. Jadi akselerasi sosial emosi ini harus cepat kami lakukan agar mereka siap belajar keaksaraan. Aku tidak begitu panik karena toh Javas akan masuk di MI Istiqlal...walaupun begitu tetep kita latih dia untuk keaksaraan agar setidaknya dia sudah bisa membaca saat MI kelak.

Kepanikan dialami oleh ibu-ibu yang akan menyekolahkan anaknya di SD umum atau SDIT luar sana karena tes awal sudah ada yang dimulai Desember ini sehingga mereka sangat ingin anaknya sudah bisa membaca...(SD lain pasti menarget pada tes itu, anak-anak yang diterima adalah yang sudah bisa baca...). Menurut Bu Guru..bagaimana bisa mereka memulai keaksaraan kalau tahap sosial emosi mereka saja masih di level anak usia 3-4 tahun yang seharusnya sudah mereka lewati. Bu Guru pun paham tentang tuntutan bisa membaca, maka dari itu mereka mengadakan parenting class ini untuk bersama-sama akselerasi sosial emosi anak-anak.

OK Bu Guru...kami akan mempraktekkan trik-trik solusi yang dijelaskan tadi dan semoga hasilnya akan menjadikan anak-anak lebih baik lagi....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar