Kamis, Maret 17, 2011

9 Summers 10 Autumns dari Kota Apel ke The Big Apple


Saya ingin mengulas buku yang ditulis oleh teman baik saya waktu kuliah dulu, Iwan Setyawan. Ia penulis novel “9 Summers 10 Autumns dari Kota Apel ke The Big Apple”.

Sebelumnya, Iwan telah menerbitkan buku puisi dan fotografi berjudul “Melankoli Kota Batu”, kota tempat kelahiran si penulis. Pada saat itu, secara simultan, Iwan juga tengah menyelesaikan memoir pribadinya. Tetapi kemudian ditawar oleh salah satu penerbit besar di Indonesia untuk diterbitkan menjadi novel fiksi yang berangkat dari kisah nyata penulisnya.

Saat ini, novel-novel berdasarkan kisah nyata penulisnya telah banyak beredar, mulai dari novel Andrea Hirata sampai, yang baru terbit terakhir, karya A. Fuadi. Jadi mungkin saja terjadi pengasumsian bahwa novel ini akan bergaya yang sama dengan novel-novel sejenis yang duluan terbit. Terus terang, saya tidak pernah tuntas membaca karya A. Fuadi karena terlalu tenggelam dalam karya Andrea Hirata. Saya khawatir, buku “9 Summers 10 Autumns” ini memiliki pola bercerita yang sama dengan Andrea Hirata.

Tentang Iwan Setyawan sendiri, saya mengenalnya saat kuliah di IPB dulu dengan kesan yang sangat menyenangkan. Iwan ini unik, menurut saya. Dia tipe yang tidak pernah absen bersenang-senang tapi selalu mendapat nilai terbaik di kelas. Jadi saya sempat berpikir, kapan Iwan ini belajar kalau setiap acara bermain kami, selalu saja dia tak pernah ketinggalan. Kalau teman yang pintar tapi tidak gaul, cukup banyak (apalagi di IPB). Tapi yang seperti Iwan ini sangat jarang. Di buku ini baru saya tahu, bagaimana pola belajar Iwan, sehingga akhirnya menjadi lulusan terbaik di fakultasnya.

Nah, Iwan ini baru balik dari New York setelah 10 tahun bekerja di sana. Beberapa bulan sebelum dia pulang kampung selamanya, saya sering membaca status-statusnya di Facebook yang mengisyaratkan dia telah mencapai semuanya. Baik secara materi maupun spiritual, terutama dari spiritualnya. Tentang betapa yoga telah membuat dia terinspirasi dan merasa kembali murni di dalam hatinya. Tentang perjalanannya keliling dunia. Saya pikir dia telah mencapai suatu nilai spiritual dari semua pengalaman hidupnya.

Sedikit banyak motivasi saya memiliki buku ini adalah Iwan Setyawan sendiri. Dia teman baik dalam menjalani kehidupan Kampus IPB dalam kegembiraan. Humor-humor Iwan yang tidak pernah kelihatan sedih membantu saya dalam mengatasi ketidakberdayaan, saat homesick maupun saat kelabakan mengerjakan tugas ataupun juga saat stres menghadapi ujian.

Namun, ternyata membaca pengantar buku ini membuat saya menyadari bahwa saya hanya mengenal teman-teman sebatas kulit luarnya saja. Saya hanya tahu Iwan yang menyenangkan, pintar, dan penuh humor. Saya tidak tahu bahwa untuk sekolah di IPB, dia harus berjuang keras sedari kecil. Jadi motivasi saya ingin mempunyai buku ini bukan hanya sekedar bahwa dia teman baikku, tapi karena saya ingin mengenal lebih dekat teman baikku ini.

Cerita dibuka dengan kejadian pada tahun pertama Iwan berada di New York. Saat itu, dia harus menghadapi hidup dan mati ketika mengalami penodongan oleh dua laki-laki hispanik dan kulit hitam. Pada saat panik seperti ini, dia melihat sosok bocah kecil berbaju putih merah seperti seragamnya saat SD. Selanjutnya cerita bergulir dan sosok bocah tadi menjadi sosok sentral sepanjang cerita.

Dengan gaya cerita kilas balik, dia bercerita kepada sosok bocah kecil selama di New York. Novel ini menjadi mengalir dan membuat saya tidak ingin berhenti membacanya. Bagaimanapun, efek mengenal langsung penulisnya membuat gambaran dalam novel ini terasa nyata. Saya menjadi sangat terkejut membaca prolog penodongan itu. Saya membayangkan Iwan, yang fisiknya mungil, harus menghadapi dua laki-laki tinggi besar.

Berkat novel setebal 211 halaman ini, saya menjadi merasa mengenal lebih dekat dengan Iwan. Bahwa dibalik sikap cerianya pada waktu kuliah dulu, tersimpan jiwa kesepian yang merasa tidak cocok berada di semua tempat. Namun rasa sepi yang dia alami tidak lantas membuat dia mundur, malah menjadi cambuk buat Iwan untuk lebih berhasil dalam hidupnya. Sudah sepantasnya kita mendapat motivasi dari semangat seperti itu.

Pada akhirnya, semua kesuksesan Iwan saat berkarir di New York merupakan buah dari kesabaran dan perjuangan hidupnya saat kecil. Dan, tekad Iwan yang kuat untuk merubah kehidupannya sendiri.

Jadi jika ingin membaca novel fiksi yang berdasar kehidupan nyata dan ingin lepas dari pengaruh tulisan Andrea Hirata, saya sarankan untuk membaca novel ini.

2 komentar:

  1. Ya, tulisan yang berdasarkan dari pengalaman sendiri tentu akan memberikan ruh yang luar biasa. Semoga saya bisa membacanya ^_^

    BalasHapus