Rabu, Februari 25, 2009

Ekspektasi Pada Anak

Ketika baca lagi presentasi Bu Aries tentang anjuran dalam berkomunikasi, ada satu poin yang akhir-akhir ini kudiskusikan juga dengan suamiku..tentang "ubah ekspektasi kita".

Sampai sekarang Detya ga terlalu dekat dengan ayahnya walaupun aku sangat-sangat ingin dia bisa jadi Daddy's Little Girl.. Dan dari hasil diskusi kami, aku bisa menduga bahwa ekspektasi Ayah terhadap Detya tidak sesuai dengan kenyataan sehingga Ayah jadi selalu menilai Detya dan Detya ga nyaman dengan penilaian itu. Ayah ga pernah punya saudara perempuan dan satu-satunya perempuan yang dikenal ayah adalah Ibunya sehingga harapan ayah ya perempuan itu seperti ibunya..seorang guru dan ibu rumah tangga yang mengabdi.. Namanya juga double tasking, jadi ibu mertuaku itu cekatan dan mandiri..juga open (bahasa jawa lo..) terhadap anak-anaknya..

Sedangkan Detya sendiri, menurutku sangat-sangat perempuan..(walau aku ga begitu..jadi heran darimana dia melihat dan mencontoh karakter merengek-rengek seperti itu). Dia penakut..ga berani coba-coba sesuatu yang baru..suka menempel-nempel dan gelendotan ga jelas ke semua orang.. Akibatnya Ayah seringkali jengkel sendiri ketika mencoba beraktifitas dengan Detya tapi Detya menolak untuk mencoba dengan alasan takut..berulang kali terjadi akhirnya ayah dan detya sama-sama malas mencoba bekatifitas bersama-sama..dan akhirnya mereka ga pernah dekat...

Aku sudah mencoba agar ayah mencoba untuk mengerti ketakutan Detya dalam mencoba...lalu mencari solusi dan memotivasi dia dengan cara yang baik..aku yakin Detya hanya butuh diyakinkan dengan alasan yang jelas... Seperti pas belajar naik sepeda..ayah sudah nyerah ketika 2 kali membantu tapi Detya terus ketakutan..sedangkan denganku...tetap kumotivasi dan kubantu ketika dia khawatir..maka dua kali weekend..dia sudah sukses bersepeda...

Jadi intinya..jangan terlalu mengharapkan yang tinggi..sesuaikan harapan kita dengan usia anak..tiap tahapan usia..masing-masing anak punya kematangan sendiri-sendiri...maka berpikirlah dari sudut pandang anak, jangan dari tahapan pikiran kita sendiri...
Setelah itu ayah sudah mulai berusaha menyesuaikan diri walaupun masih saja ekspektasinya seringkali terlalu tinggi..

Tadi pagi juga mulai lagi diskusi masalah Javas...betapa Javas suka sekali patah semangat ketika mencoba menggambar tapi ga bisa-bisa..atau cara Javas mewarnai yang masih kaku dan sulit untuk tetap dalam garis...Yang bikin Ayah khawatir adalah kemampuan Javas yang jauh di bawah Detya dalam usia yang sama....Rasanya gubrak deh..bukankan aturan yang paling utama dalam membesarkan anak adalah "Jangan pernah membandingkan anak"...hiks..jadi aku hanya bisa mengingatkan ayah tentang hal itu plus agar ayah mengubah ekspektasi terhadap anak..

Bukankan sudah sangat membahagiakan bahwa Javas punya inisiatif untuk bereksperimen mencoba menggambar mainan yang dia sukai..mencoba membuat mainan itu sendiri dari kardus bekas..dan ketika dia mencoba semua itu, dia begitu tekun berkonsentrasi dan ketika tidak bisa maka akan segera meminta pertolongan orang tuanya.. OK..memang ketika sudah tidak bisa nyoba sendiri, dia akan kesal sehingga kesannya jadi memaksa-maksa kita untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan sendiri.. tapi ga ada salahnya kan membantu dia agar lebih mudah sehingga dia bisa melanjutkan sendiri kegiatannya itu.. Pada saat-saat seperti inilah..ayah merasa Javas kurang berusaha...

So...benar-benar deh...ekspektasi kita harus sesuai dengan kemampuan dan kematangan anak...jangan hanya berpikir dari sudut pandang kita sendiri sebagai orang tua..

1 komentar:

  1. Makasih buat postingannya mbak. Bakal saya inget2x kalo nanti punya anak sendiri. Berdasarkan pengalaman sebagai anak, ekspektasi ortu yang berlebihan memang bisa membuat kita tertekan dan merasa dituntut untuk lebih.

    Meski niat ortu baik dan ingin yang terbaik buat anak2x, tetap cara dan prosedurnya harus hati2x begitu kali ya. Anak ibarat kertas putih yang mencatat dan merekam setiap kejadian serta pengalaman masa kecilnya.

    BalasHapus